Perspektif / AI & pekerjaan · 7 menit baca
AI Mengubah Isi Pekerjaan Sebelum Mengubah Struktur Organisasi
WEF memperkirakan hampir 40% keterampilan kerja berubah sampai 2030. Riset di The Quarterly Journal of Economics menunjukkan kelompok pekerja yang paling cepat merasakan dampaknya.

Diskusi tentang AI di perusahaan sering berfokus pada jabatan yang akan hilang. Data terbaru menunjukkan bahwa yang lebih dulu berubah adalah tugas dan keterampilan di dalam jabatan.
Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, yang disusun dari data lebih dari 1.000 perusahaan di 22 industri dan 55 perekonomian, memperkirakan disrupsi setara 22% pekerjaan sampai 2030: 170 juta peran baru tercipta dan 92 juta tergeser, sehingga neto bertambah 78 juta. Hampir 40% keterampilan yang dibutuhkan di pekerjaan diperkirakan berubah.1
pekerjaan akan mengalami disrupsi sampai 2030.
Sumber [1]peran baru tercipta, 92 juta tergeser, neto bertambah 78 juta.
Sumber [1]rata-rata masalah terselesaikan per jam setelah agen layanan pelanggan mendapat asisten AI.
Sumber [2]pemimpin yang merasa sudah membuat kemajuan merancang interaksi manusia dan AI.
Sumber [3]Rencana pemberi kerja: melatih sekaligus mengurangi
Laporan yang sama mencatat 77% pemberi kerja berencana meningkatkan keterampilan pekerjanya, 41% berencana mengurangi tenaga kerja karena AI mengotomatisasi sebagian tugas, dan separuhnya berencana mengubah arah bisnisnya.1 Kedua rencana ini tampak bertolak belakang, tetapi lebih mudah dipahami bila dilihat per tugas daripada per jabatan.
Pekerja yang paling cepat merasakan dampaknya
Studi Brynjolfsson, Li, dan Raymond di The Quarterly Journal of Economics (2025) mengamati 5.172 agen layanan pelanggan yang mendapat asisten berbasis AI generatif secara bertahap. Produktivitas, diukur dari jumlah masalah yang terselesaikan per jam, naik rata-rata 15%. Pekerja yang kurang berpengalaman dan kurang terampil membaik dari sisi kecepatan dan kualitas, sementara pekerja paling berpengalaman hanya mendapat sedikit tambahan kecepatan dan sedikit penurunan kualitas.2
Dalam studi ini, manfaat terbesar dirasakan oleh pekerja yang pengalamannya masih sedikit. Di sisi lain, Deloitte mencatat hanya 6% pemimpin yang merasa sudah membuat kemajuan dalam merancang interaksi manusia dan AI.3
Pandangan Nusva Advisory
Kami menyarankan memulai dari inventaris tugas. Untuk setiap jabatan kunci, pisahkan tugas yang layak diotomatisasi, yang diperkaya dengan AI, dan yang dipindahkan ke peran lain. Dari situ arsitektur jabatan, jalur karier, dan kebutuhan pelatihan bisa dirancang ulang dengan dasar yang jelas.
Data WEF berasal dari survei pemberi kerja global. Studi QJE dilakukan di satu perusahaan perangkat lunak pada fungsi layanan pelanggan, sehingga besar efeknya bisa berbeda di pekerjaan lain.
Sumber
- World Economic Forum. Future of Jobs Report 2025, Januari 2025. Data dari lebih dari 1.000 perusahaan di 22 industri dan 55 perekonomian. Buka sumber ↗
- Brynjolfsson, E., Li, D., & Raymond, L. (2025). Generative AI at Work. The Quarterly Journal of Economics, 140(2), 889-942. doi:10.1093/qje/qjae044. Buka sumber ↗
- Deloitte. 2026 Global Human Capital Trends, siaran pers 4 Maret 2026. Buka sumber ↗
Foto ilustrasi buatan AI.