Diskusi tentang AI di perusahaan sering berfokus pada jabatan yang akan hilang. Data terbaru menunjukkan bahwa yang lebih dulu berubah adalah tugas dan keterampilan di dalam jabatan.
Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, yang disusun dari data lebih dari 1.000 perusahaan di 22 industri dan 55 perekonomian, memperkirakan disrupsi setara 22% pekerjaan sampai 2030: 170 juta peran baru tercipta dan 92 juta tergeser, sehingga neto bertambah 78 juta. Hampir 40% keterampilan yang dibutuhkan di pekerjaan diperkirakan berubah.1
22%pekerjaan akan mengalami disrupsi sampai 2030.
Sumber [1] 170 jtperan baru tercipta, 92 juta tergeser, neto bertambah 78 juta.
Sumber [1] +15%rata-rata masalah terselesaikan per jam setelah agen layanan pelanggan mendapat asisten AI.
Sumber [2] 6%pemimpin yang merasa sudah membuat kemajuan merancang interaksi manusia dan AI.
Sumber [3]
Rencana pemberi kerja: melatih sekaligus mengurangi
Laporan yang sama mencatat 77% pemberi kerja berencana meningkatkan keterampilan pekerjanya, 41% berencana mengurangi tenaga kerja karena AI mengotomatisasi sebagian tugas, dan separuhnya berencana mengubah arah bisnisnya.1 Kedua rencana ini tampak bertolak belakang, tetapi lebih mudah dipahami bila dilihat per tugas daripada per jabatan.
Pekerja yang paling cepat merasakan dampaknya
Studi Brynjolfsson, Li, dan Raymond di The Quarterly Journal of Economics (2025) mengamati 5.172 agen layanan pelanggan yang mendapat asisten berbasis AI generatif secara bertahap. Produktivitas, diukur dari jumlah masalah yang terselesaikan per jam, naik rata-rata 15%. Pekerja yang kurang berpengalaman dan kurang terampil membaik dari sisi kecepatan dan kualitas, sementara pekerja paling berpengalaman hanya mendapat sedikit tambahan kecepatan dan sedikit penurunan kualitas.2
Dalam studi ini, manfaat terbesar dirasakan oleh pekerja yang pengalamannya masih sedikit. Di sisi lain, Deloitte mencatat hanya 6% pemimpin yang merasa sudah membuat kemajuan dalam merancang interaksi manusia dan AI.3
Pandangan Nusva Advisory
Kami menyarankan memulai dari inventaris tugas. Untuk setiap jabatan kunci, pisahkan tugas yang layak diotomatisasi, yang diperkaya dengan AI, dan yang dipindahkan ke peran lain. Dari situ arsitektur jabatan, jalur karier, dan kebutuhan pelatihan bisa dirancang ulang dengan dasar yang jelas.
Data WEF berasal dari survei pemberi kerja global. Studi QJE dilakukan di satu perusahaan perangkat lunak pada fungsi layanan pelanggan, sehingga besar efeknya bisa berbeda di pekerjaan lain.
Company discussions about AI often focus on which jobs will disappear. Recent data shows that what changes first are the tasks and skills inside each job.
The World Economic Forum's Future of Jobs Report 2025, drawing on data from over 1,000 companies in 22 industries and 55 economies, expects job disruption equal to 22% of jobs by 2030: 170 million new roles created and 92 million displaced, a net increase of 78 million. Nearly 40% of the skills required on the job are set to change.1
22%of jobs will be disrupted by 2030.
Source [1] 170 jtnew roles created, 92 million displaced, a net gain of 78 million.
Source [1] +15%average issues resolved per hour after customer-support agents got an AI assistant.
Source [2] 6%of leaders say they are making progress designing human-AI interactions.
Source [3]
Employer plans: upskilling and reducing at once
The same report notes that 77% of employers plan to upskill their workers, 41% plan to reduce their workforce as AI automates certain tasks, and half plan to reorient their business.1 These plans look contradictory, but they are easier to understand when viewed task by task rather than job by job.
Who feels it first
Brynjolfsson, Li and Raymond, in The Quarterly Journal of Economics (2025), studied 5,172 customer-support agents given a generative AI assistant in stages. Productivity, measured as issues resolved per hour, rose 15% on average. Less experienced and lower-skilled workers improved in both speed and quality, while the most experienced saw small gains in speed and small declines in quality.2
In this study, the largest gains went to the least experienced workers. Meanwhile Deloitte finds only 6% of leaders say they are making progress designing human-AI interactions.3
Nusva Advisory's view
We suggest starting with a task inventory. For each key role, separate the tasks to automate, the tasks to enrich with AI, and the tasks to move to another role. Job architecture, career paths and training needs can then be redesigned on a clear basis.
WEF data comes from a global employer survey. The QJE study was done in one software firm's customer-support function, so effect sizes may differ in other work.
SumberSources
- World Economic Forum. Future of Jobs Report 2025, Januari 2025. Data dari lebih dari 1.000 perusahaan di 22 industri dan 55 perekonomian.World Economic Forum. Future of Jobs Report 2025, January 2025. Data from over 1,000 companies in 22 industries and 55 economies. Buka sumber ↗Open source ↗
- Brynjolfsson, E., Li, D., & Raymond, L. (2025). Generative AI at Work. The Quarterly Journal of Economics, 140(2), 889-942. doi:10.1093/qje/qjae044.Brynjolfsson, E., Li, D., & Raymond, L. (2025). Generative AI at Work. The Quarterly Journal of Economics, 140(2), 889-942. doi:10.1093/qje/qjae044. Buka sumber ↗Open source ↗
- Deloitte. 2026 Global Human Capital Trends, siaran pers 4 Maret 2026.Deloitte. 2026 Global Human Capital Trends, press release, 4 March 2026. Buka sumber ↗Open source ↗
Foto ilustrasi buatan AI.AI-generated illustrative photo.